Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Inilah Pemeran/Pengisi Suara "Unyil" Pertama Kali dan Seperti Apa Beliau Kini

BERBEDA dari Suyadi ”Pak Raden” atau Abdul ”Pak Ogah” Hamid yang sampai sekarang masih lekat dengan sosok yang diperankan dalam film Si Unyil, Bambang Utoyo justru sebaliknya. Padahal, perannya jauh lebih penting daripada keduanya. Bahkan, dia pemeran utamanya. Sebab, Utoyo-lah yang mengisi suara Unyil untuk kali pertama.

Penampilannya sekarang memang sudah berubah. ”Kan waktu mengisi suara Unyil, saya masih umur sepuluh tahun,” kata Utoyo saat ditemui di rumahnya di kompleks Delta Pekayon Jaya, Bekasi. Utoyo pada 20 Juni nanti akan genap 40 tahun.

Pria kelahiran Jakarta itu menjelaskan, dirinya hanya mengisi suara Unyil hingga kelas II SMP. Sebab, ketika itu dia mengalami perubahan suara karena bertambah dewasa. ”Jadi, sudah bukan kayak anak kecil lagi,” ujar Utoyo. Meski demikian, Utoyo masih mengikuti road show Si Unyil hingga dia kelas II SMA.

Alhasil, banyak orang yang tidak mengenalinya, kecuali dia telah menyebutkan sebagai pengisi suara Unyil. Seperti saat Aditya Gumay, pengasuh Sanggar Ananda, terperangah ketika mengetahui bahwa Utoyo yang ada di depannya adalah Unyil. ”Kebetulan, anak saya yang pertama ikut di Sanggar Ananda,” kata suami Nunung Nurhayati itu.

Aktivitas Utoyo saat ini juga jauh dari peran Unyil. Ayah dua anak tersebut bekerja di bagian purchasing sebuah stasiun televisi swasta yang berkantor di kawasan Senayan City. Baru sebulan ini Utoyo bergelut dengan pekerjaan itu. Sebelumnya, dia sempat bertugas di bagian administrasi program dan quality program di stasiun televisi yang sama.

Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) itu menyatakan, keterlibatannya dalam Si Unyil terjadi karena faktor ayahnya yang kenal dengan Kurnain, pengarang cerita Si Unyil. Sebelum terlibat di Si Unyil, Utoyo sudah ikut dalam film dokumenter tentang gunung meletus di Dieng pada 1978. ”Pulang dari sana, langsung ikut mengisi suara Unyil tanpa casting,” kenangnya lantas menyebut bahwa bayarannya sehari adalah Rp 10 ribu.

Proses dubbing dijalaninya setiap pulang sekolah di SDN Cipinang Cempedak 02. Tak pelak, Utoyo pun mendapatkan panggilan Utoyo Unyil. Tugasnya kemudian digantikan Rivaldi saat dia menginjak kelas II SMP. Namun, pergantian itu tak menamatkan karirnya dalam Si Unyil. Dia mendapatkan peran baru untuk mengisi suara Ujang, sepupu Unyil. ”Mungkin sebagai ucapan terima kasih, diadakan tokoh itu. Tapi, dia jarang muncul,” ungkapnya.

Namanya juga masih anak-anak, pekerjaan yang dijalani saat masih SD tersebut tidak menjadi beban, malah itu ditunggu-tunggu. Namun, bukan proses dubbing yang mereka nanti, melainkan saat mereka jeda istirahat. ”Kami main-main di belakang gedung PPFN (PusatProduksi Film Negara, Red), main layang-layang dan memanjat pohon jambu,” cerita Utoyo tentang masa kecilnya. Bayaran yang diterima pun sepenuhnya diserahkan kepada orang tuanya.

Saat rombongan Si Unyil harus memenuhi undangan untuk road show ke daerah-daerah, Utoyo juga turut serta. Baju Unyil warna oranye, sarung yang diselempangkan, plus peci hitam menjadi atribut tetapnya. ”Baju dan sarungnya masih saya simpan. Itu benda bersejarah,” katanya. Dia menyatakan menikmati saat-saat road show karena bisa berkeliling ke seluruh Indonesia. Hanya Sulawesi, Irian (kini Papua), Bali, dan Aceh daerah yang belum pernah disinggahinya.

Selain itu, Utoyo harus mempertahankan rambutnya agar tetap gondrong. Hal tersebut sempat ditentang kepala SMP 62, tempatnya bersekolah. ”Kepala sekolahnya nggak mau tahu, pokoknya harus potong rambut,” urai Utoyo. Akhirnya, melalui surat resmi dari PPFN, Utoyo mendapatkan dispensasi untuk tetap berambut gondrong.

Utoyo memberikan apresiasi karena masih ada pihak yang mau menayangkan program Si Unyil di masa sekarang. Namun, dia mengharapkan, penayangan itu tidak mengubah karakter asli tokoh- tokohnya. ”Kalau mau di-produce lagi, harus sesuai dengan aslinya. Jangan dicampur dengan yang lain,” tuturnya.

source
Read More >>

Rabu, 03 Agustus 2011

Inilah Kisah Sukses Billioner Pendiri Bank Mega Sekaligus Pemilik Stasiun TV Trans Corp


Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.


Chaerul Tanjung

Bermula dari awal kuliah di jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Biaya masuk kuliah kala tahun 1981 sebesar Rp 75 ribu, dengan uang kuliah per tahun Rp 45 ribu. Rupanya, untuk membayar uang kuliah tersebut, sang ibu sampai harus menggadaikan selembar kain halus.

“Saya betul-betul terenyuh dan shock, sejak saat itu saya bersumpah tidak mau meminta uang lagi ke orang tua,” kata dia pada pertengahan Januari 2009 ini.

Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, – setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega – menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Kini Grup Para mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Mega Capital Indonesia. Kedua, gaya hidup dan hiburan seperti Trans TV, Trans7. Ketiga berbasis sumber daya alam.


TENTANG TRANSCORPORA (TRANSCORP)

PT Trans Corporation/Trans Corpora/TransCorp (sebelumnya bernama PT Para Inti Investindo) adalah unit usaha Para Group di bidang media, gaya hidup, dan hiburan. Pada awalnya, Trans Corp didirikan sebagai penghubung antara stasiun televisi Trans TV (Televisi Transformasi Indonesia) dengan stasiun televisi yang baru saja diambil alih 49% kepemilikan sahamnya oleh Para Group dari Kompas Gramedia, Trans7 (Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh) (dahulu TV7) . Pemilik Trans Corp adalah Chairul Tanjung yang juga adalah pemilik Para Group. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1 Januari 1998.

Televisi

Trans TV didirikan pertama kali mengudara diluncurkan pembukaan publik umum diresmikan sejak pada tanggal hari Sabtu, 15 Desember 2001 sejak sekitar pukul 19:00 WIB presiden diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia adalah Megawati Soekarnoputri, Panasonic US$ 20.000.000 dan bersama dengan produk lainnya, Kelompok Kompas Gramedia, pertama kali menayangkan TV7. Hal ini juga didirikan Spacetoon, yang sekarang dimiliki oleh Trans Asia Communications Inc. sejak 1 Mei 2006. Para Group membeli saham 49% TV7 dan menamainya sebagai Trans 7. Pada tanggal 15 Desember 2006, Samsung membeli Trans Corpora dalam program Trans Penta5 di Trans TV dan Trans 7 pada tanggal 15 Desember 2006. Tahun 2007, pertukaran Samsung lebih besar dari Panasonic (Samsung: 29,95%) (Panasonic: 15,15%). 2007, Panasonic menjual 15,15% dari saham Trans Corporation kepada Samsung Group. Kemudian Trans Corpora akan bergabung dengan Media Group dan Kelompok Kompas Gramedia untuk membentuk Samsung Trans Corpora Haluan mencerminkan divestasi Panasonic dari bisnis.

=> wikipedia

Belakangan, Chairul bekerja sama dengan Jusuf Kalla membentuk taman wisata terbesar di Makassar.

Chairul merupakan salah satu dari tujuh orang kaya dunia asal Indonesia. Dia juga satu-satunya pengusaha pribumi yang masuk jajaran orang tajir sedunia. Enam wakil Indonesia lainnya adalah Michael Hartono, Budi Hartono, Martua Sitorus, Peter Sondakh, Sukanto Tanoto dan Low Tuck Kwong.

Berkat kesuksesannya itu Majalah Warta Ekonomi menganugerahi Pria Berdarah Minang/Padang sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun 2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.

source
Read More >>

Jumat, 11 Maret 2011

Inilah Kisah Seorang Anton Krotov “Backpacker Muslim” yang Keliling Dunia Tanpa Modal

Anton Krotov
Anton Krotov saat berada di Papua berpose bersama pelajar SMU setempat

Jarum jam menunjuk pukul 23.00 Kamis lalu (4/3). Jalanan di Jakarta sudah senyap. Seorang pria kulit putih berjenggot lebat tampak sedang berkonsentrasi menghadap layar komputer jinjing di sebuah rumah di bilangan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Beberapa kali pria itu membenahi sarung yang melingkar di pinggangnya. Dahinya mengernyit sembari mengetik deretan kalimat dalam bahasa Rusia. Dialah Anton Krotov, salah seorang pencetus metode perjalanan ekstrem berkeliling dunia tanpa modal.

Malam itu adalah hari terakhir dia tinggal di Jakarta. Beberapa minggu sebelumnya, dia sempat tinggal di Aceh sebelum mampir dua malam di Jakarta. Dalam kunjungan keempatnya ke Indonesia kali ini, Anton berencana menyusur Pulau Jawa dengan kereta dan transit di Solo, Jawa Tengah, serta Kota Malang, Jawa Timur.

Minggu depan, dia segera melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini. “Dalam setahun, sembilan bulan saya habiskan berkelana di jalanan dan berkeliling dunia. Tiga bulan sisanya saya pulang ke Moskow atau menetap di satu negara,” ujar Anton dalam bahasa Inggris berlogat Rusia. Jawa Pos berhasil menemuinya malam itu atas bantuan Duta Besar Backpacker Indonesia Nancy Margaretha.

Anton Krotov
Anton Krotov bersama para warga di Papua

Anton mencatat, dirinya telah berkelana ala hitchhiking atau menumpang gratis kendaraan darat sekitar 700 ribu kilometer. Mantan wartawan itu pun telah memublikasikan informasi perjalanan dan ragam tip dalam situs berbahasa Rusia www.avp.travel.ru. Dia juga telah menerbitkan 37 judul buku yang sebagian telah diterjemahkan dari bahasa Rusia ke beragam bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Anton sukses menjual sekitar 200 ribu kopi berbagai judul buku perjalanan tersebut. Yang paling diminati adalah buku saku berjudul Practice of Free Travels or Free Travel in Practice. Buku itu memuat cara-cara berkeliling dunia dan bertahan hidup di medan-medan sulit, termasuk teknik berkelana tanpa modal.

Anton memulai hobi berkelana ekstrem pada 1991 ketika berusia 15 tahun. Saat itu, dia menyisir daratan Uni Soviet yang luasnya 2/3 seluruh daratan bumi. Padahal luas resmi negara yang kini bernama Rusia itu tercatat 17.075.400 kilometer persegi atau sembilan kali luas Indonesia.

Ketika itu, dia hanya membawa satu koin 60 sen dan menjelajahi bekunya suhu Rusia selama dua bulan. Perjalanan ditempuh dengan numpang semua jenis moda transportasi, mulai mobil pribadi, truk barang, sampai helikopter. Sukses menaklukkan 86 di antara total 89 provinsi di Rusia yang dinilai merupakan medan terberat di muka bumi membuat dirinya ketagihan. Anton pun mulai intensif menjejakkan kaki di benua-benua lain dan berkelana. Hingga saat ini, dia telah berkunjung ke 49 negara.

Anton Krotov
Anton Krotov saat berada di Mesir

Ciri khas Anton adalah gemar mengunjungi negara yang dimusuhi Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Terutama yang dicap negara konflik, negara teroris, negara endemi penyakit, atau negara miskin. Dengan begitu, dia bisa memberitakan kepada dunia tentang fakta-fakta riil di kawasan tersebut melalui buku serta situsnya.

“Kesimpulan saya, tidak ada manusia jahat. Saya pergi ke Somalia, Angola, Sudan, Madagaskar, Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Indonesia, serta negara-negara lain, mereka semua ramah kepada saya,” ujarnya.  Menurut pria yang 10 tahun silam memeluk Islam itu, di negara-negara konflik justru banyak tersembunyi tempat eksotis. Spot wisata tersebut terkubur kesan angker yang diembuskan negara-negara Eropa dan AS. Melalui buku dan tulisannya, Anton membuka tabir dan mengoreksi travel warning. Tulisannya mendalam dan objektif karena rata-rata dua hingga empat kali dia mengunjungi negara yang sama dalam kurun waktu berbeda sejak 20 tahun terakhir.

Dalam satu dekade belakangan, kata dia, kesan orisinalitas bangsa dunia telah luntur. Dampak globalisasi dan modernisasi telah menyentuh pedalaman Afrika, Timur Tengah, serta Asia. Afghanistan dan Pakistan, misalnya, bukan lagi negara Islam layaknya 10 tahun silam. Warga di sana, lanjut Anton, sangat materialistis setelah listrik, internet, dan telepon seluler menjamur. Semakin banyak yang mahir berbahasa Inggris dan kerap menaikkan harga jika bertemu turis kulit putih. “Sedikit-sedikit dollar Mister, dollar Mister… Mereka kini menyembah uang,” ungkapnya lantas tersenyum kecut.

Ironisnya, di negara-negara Islam itu mulai banyak berdiri kafe, supermarket, dan bar. Penduduk kini bisa mengonsumsi bir secara bebas menirukan budaya Barat. Di Tajikistan Timur misalnya, pada 1999″2001, siapa saja bisa masuk tanpa visa. Turis cukup membayar dengan tembakau atau beberapa belas dolar saja.

Photobucket
Anton Krotov tak jarang tidur di pinggiran jalan untuk istirahat saat hicking

Negara yang sulit dijelajahi backpacker, kata Anton, adalah Tiongkok. Sebab, sangat sedikit warganya yang pandai berbahasa asing. Untuk memudahkan berkomunikasi ketika berada di negara itu, dia merancang metode khusus dengan kartu kata. Dia mencetak 50 kata penting dalam kartu bolak-balik. Satu sisi bertulisan bahasa Mandarin dan sisi lain bahasa Rusia. Jika menginginkan sesuatu, dia tinggal menunjukkan kartu kata tersebut kepada warga lokal.

Tip simpel lain, mereka yang ingin berkeliling dunia setidaknya harus mempelajari 200 kata dalam bahasa lokal di tiap negara yang akan dikunjungi. Kata-kata itu sebaiknya berkaitan dengan kebutuhan primer seperti makan, sandang, dan tempat berteduh. Namun, Anton lebih suka menghafal satu kalimat manjur. Apa itu” “Saya tidak punya uang,” ujarnya lantas tertawa.

Tip-tip itu juga disusun dalam materi kurikulum dan diajarkan kepada sesama backpacker melalui lembaga pendidikan informal, yakni Academy of Free Travel. Anton menjabat presiden di lembaga yang kursusnya dilangsungkan berpindah-pindah di berbagai negara itu. Untuk keperluan tersebut, setahun sekali dia menetap selama sebulan dan menyewa rumah di sebuah negara. Di sana, Anton mengundang murid-muridnya dari berbagai negara untuk datang dan berbagi ilmu. Setelah kursus selesai, mereka pun menyebar kembali berkelana membelah penjuru globe.

Menjelang wawancara berakhir, Anton sempat meminta peta dunia buatan Indonesia dan sebuah pena. Sembari ngobrol, dia menunjukkan bahwa peta cetakan lokal itu memiliki banyak kesalahan. Misalnya, sejumlah perbatasan negara yang tidak sesuai di wilayah Afrika dan Timur Tengah. Ada juga pulau-pulau milik Rusia yang dimasukkan ke wilayah Jepang. Dia juga menggambar jaringan jalan baru yang diketahuinya dalam perjalanan. Sebab, bagi pengelana seperti dirinya, pengetahuan peta dan kompas merupakan hal nomor satu yang wajib dimiliki.

Selain memperbaiki peta, Anton memiliki kebiasaan lain, yakni selalu menelepon orang tuanya sebelum tidur dengan fasilitas telepon internet. Itu dilakukan untuk menghormati ayah dan ibunya. Selain itu, agar keselamatan selalu diberikan Allah SWT. “Yang saya pelajari sebagai orang Islam, jika saya salat dan tidak minum alkohol, di mana pun berada, saya akan dibantu dan disayangi orang asing,” katanya.

Sepanjang 2012, jadwal Anton sudah padat. Dia akan mengunjungi Damaskus (Syria), Krasnoyarks (Rusia), Kunming (Tiongkok), dan mengadakan kelas Academy of Free Travel di Guatemala. Pada 2013, kelas akan berpindah ke Madagaskar. Dia berjanji membawa berita-berita baik ke negara-negara itu dan berharap bisa membawa pesan damai Islam di mana pun berada

ruanghati
Read More >>

Mark Inglis, si Pendaki Himalaya yang Hanya Berkaki Besi

www.AstroDigi.com

Kehilangan 2 kaki tak pernah membuat Mark Inglis patah semangat. Hanya dengan mengandalkan sepasang kaki palsu, pendaki gunung asal Selandia Baru ini masih sanggup menaklukkan puncak-puncak tertinggi di dunia termasuk Mount Everest (puncak tertinggi di Himalaya).

Mark Inglis yang saat ini berusia 51 tahun datang ke Indonesia untuk memotivasi para difabel agar tidak patah semangat menjalani hidup.

www.AstroDigi.com

Dari cara berjalannya yang lincah, tak ada kesan sama sekali bahwa sesungguhnya pria berusia 51 tahun ini tidak memiliki kaki. Namun ketika celananya agak diangkat, Mark Inglis tampak lebih mirip 'robot' dengan kaki palsu yang seluruhnya terbuat dari besi.

www.AstroDigi.com

Mark, demikian ia biasa dipanggil, adalah seorang peneliti sekaligus pendaki gunung profesional yang aktif berpetualang sejak tahun 1979. Sepanjang karirnya, pria asal Selandia Baru ini juga sering terlibat dalam kegiatan Search and Rescue (SAR).

www.AstroDigi.com

Malapetaka menghampirinya pada tahun 1982, saat usianya baru 23 tahun. Bersama seorang rekannya yang bernama Philip Doole, kedua pendaki ini terjebak dalam gua es di puncak tertinggi Selandia Baru, Mount Cook National Park yang tingginya lebih dari 3.000 mdpl.

www.AstroDigi.com

Keduanya terjebak bukan hanya satu atau dua jam saja, melainkan hampir 2 minggu lamanya. Malang bagi Philip yang akhirnya tewas dalam musibah itu, sementara Mark boleh bersyukur nyawanya masih terselamatkan meski kedua kakinya yang 'mati' harus diamputasi sebatas lutut karena membeku.

www.AstroDigi.com

Sejak saat itu, Mark terpaksa harus menggunakan kaki palsu untuk dapat beraktivitas. Ia mengaku tak butuh waktu lama untuk beradaptasi hingga bisa berdiri, namun untuk bisa berjalan ia harus membiasakan diri selama bertahun-tahun.

www.AstroDigi.com

Berkat ketekunannya, Mark akhirnya bisa mendaki gunung lagi pada tahun 2002. Gunung pertama yang dijelajahinya dengan kaki palsu adalah Mount Cook di Selandia Baru, gunung yang 10 tahun sebelumnya telah menewaskan salah satu rekannya dan merampas kedua kakinya.

www.AstroDigi.com

Sejumlah gunung tinggi ia panjat sejak saat itu, termasuk puncak Cho Oyu di Nepal yang tingginya 8.201 mdpl dan merupakan puncak tertinggi ke-6 di dunia. Namun yang paling mencengangkan adalah pada 2006, Mark sukses menaklukkan puncak tertinggi dunia, mana lagi kalau bukan Mount Everest.

"Saya adalah pendaki gunung, kaki palsu bukan alasan untuk berhenti mendaki. Saya tidak ada kesulitan sama sekali dengan kaki palsu ini, saya bisa menggerakkannya seperti kaki asli," ungkap Mark saat ditemui dalam International Conference on Prosthetics and Orthotics di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Jumat (25/2/2011).

Sambil sesekali mendemonstrasikan kaki palsunya, Mark menjelaskan bahwa ekspedisi ke Mount Everest ia lakukan hanya dalam waktu relatif singkat. Hanya dalam 47 hari, ia sudah berhasil menyelesaikan ekspedisi yang dilakukannya bersama 11 anggota tim lainnya.

Bagi kaum difable (different ability), kaki palsu dan alat bantu gerak lainnya sangat membantu memperbaiki kualitas hidupnya. Sayangnya, di Indonesia belum banyak yang memproduksi sehingga kebutuhan akan alat bantu gerak atau prostesis masih mengandalkan import dari luar negeri.

"Prostesis yang diproduksi di dalam negeri kira-kira masih di bawah 5 persen, selebihnya harus impor. Sumber daya manusianya juga masih terbatas karena baru ada 2 sekolah yang mencetak tenaga profesional untuk prostesis yakni Poltekkes Surakarta dan Poltekkes Jakarta," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih usai membuka konferensi yang baru pertama kalinya digelar di Indonesia tersebut.

Saksikan pada tayangan video berikut:




Read More >>